Klik REGISTER dapatkan dolar

Wednesday, January 1, 2014

JAMPERSAL masuk JKBM

mulai 1 januari 2014, jaminan persalinan (JAMPERSAL) di tanggung oleh JKBM.. dengan diterbitkan surat edaran Gubernur Bali tentang pelaksanaan program JKBM tahun 2014, bahwa : kepesertaan JKBM adalah Masyarakat Bali yang memiliki kartu keluarga (KK)  Bali kode 51 dan belum memiliki jaminan kesehatan. identitas peserta JKBM untuk mendapatkan pelayanan di puskesmas dan rumah sakit jejaring JKBM adalah dengan menunjukan kartu elektronik JKBM, jika tidak bisa dengan menyerahkan fotocopy kartu KK kode 51. Simpel bukan?? ayo dukung program ini untuk menciptakan masyarakat SEHAT

Monday, December 23, 2013

Tak Hanya Ukuran Penis, Wanita Juga Memperhatikan Beberapa Hal Ini Pada Pria

Selama ini pria menyangka bahwa dalam kehidupan seksual, wanita hanya akan memperhatikan ukuran organ kelaminnya. Nyatanya berdasarkan hasil survei, ada beberapa hal lain pada pria yang juga penting di mata kaum hawa, lho.

Berikut bagian pertama tulisan tentang 10 perhatian utama wanita terhadap pria artikel bagian pertama, seperti dikutip dari Ask Men, Jumat (20/12/2013):
1. Kebersihan
Percaya atau tidak, kebersihan pria dan lingkungannya menjadi daya tarik tersendiri bagi wanita. Jika pria terbiasa hidup bersih, salah satunya dengan rajin mengganti seprai tempat tidur, hal tersebut sudah menjadi poin plus baginya.

Sayangnya, studi lain baru-baru ini dari Ergoflec justru menemukan bahwa rata-rata pria terbiasa mencuci seprai kurang dari empat kali dalam setahun. Padahal kebersihan justru diyakini bisa meningkatkan gairah seksual wanita.
2. Fisik dan penampilan
Hai pria, jangan malas lagi untuk banyak berolahraga. Sebuah studi yang dilakukan oleh University of Ottawa menemukan bahwa sebagian besar wanita menyukai penampilan pria dengan bentuk tubuh cukup besar. Studi ini menemukan bahwa secara keseluruhan, bentuk tubuh pria menyumbang sekitar 80 persen dari nilai daya tarik, sementara ukuran penis menyumbang sekitar 6 persen dan tinggi badan sekitar 5 persen.
3. Mau membantu pekerjaan rumah tangga
Cara terbaik untuk mendapatkan gairah bercinta wanita adalah dengan membantunya melakukan pekerjaan rumah tangga. Hasil ini didapat melalui survei yang dilakukan oleh Men's Health. Sekitar 7 dari 10 wanita mengungkapkan melihat pasangannya mau melakukan pekerjaan rumah tangga bisa membuatnya sangat bergairah, di antaranya seperti mencuci piring, memasak dan mencuci pakaian.
4. Penggunaan sex toys
Menurut survei terbaru yang dilakukan oleh lebih dari 3.000 penduduk Amerika, wanita yang menggunakan vibrator atau sex toys dalam 30 hari terakhir melaporkan tingkat kepuasan bercinta dan orgasme yang lebih tinggi. Selain itu mereka juga melaporkan rendahnya angka kejadian hal-hal buruk saat bercinta seperti munculnya nyeri.
5. 'Daya tahan' di ranjang
Ukuran mungkin memang penting bagi sebagian wanita, namun akan menjadi kurang memikat jika 'daya tahan' Anda di ranjang justru tak besar, baik terlalu cepat maupun terlalu lambat. Salah satu yang banyak dialami adalah ejakulasi dini. Jika Anda merasa memiliki masalah dalam mempertahankan ereksi, tak ada salahnya Anda mencoba melakukan latihan Kegel.

Teknik senam kegel tergolong sangat mudah dilakukan. Pertama, kontraksikan otot seperti menahan buang air kecil selama lima detik kemudian kendurkan. Lalu, ulangi latihan tersebut setidaknya lima kali berturut-turut dengan meningkatkan lama waktu menahan kencing 15-20 detik.

Latihan ini adalah salah satu cara terbaik untuk meningkatkan kesehatan serta stamina penis secara keseluruhan. Kegel bermanfaat untuk meningkatkan aliran darah ke penis, membuat penis lebih kuat dan ereksi lebih keras serta yang terpenting untuk meningkatkan kemampuan mengontrol ejakulasi.


Sunday, May 12, 2013

Banyak Berteman Mampu Kurangi Nyeri Pasien Kanker Payudara

Seseorang yang mengidap kanker payudara sering mengalami rasa nyeri yang hebat. Selain itu, mereka biasanya juga enggan untuk bersosialisasi karena malu. Namun peneliti justru menyatakan bahwa memiliki aktivitas yang menyenangkan bersama teman-teman bisa mengurangi rasa nyeri tersebut.

"Studi ini memberikan bukti yang menyatakan bahwa dukungan sosial dari teman-teman sebaya bisa mengurangi efek nyeri yang ditimbulkan," ungkap Candyce Kroenke, peneliti dari Kaiser Permanente Division of Research, seperti dikutip dari Daily Mail, Senin (13/5/2013).

Selain mencari hubungan antara interaksi sosial dengan gejala fisik kanker payudara, studi ini juga memeriksa bagaimana interaksi sosial bisa mempengaruhi kualitas hidup dan emosi pasien kanker payudara.

Penelitian ini dilakukan dengan melibatkan 3.139 perempuan anggota Kaiser Permanente di California Utara yang baru didiagnosis kanker payudara pada tahun 2006 hingga 2011.

Dalam waktu 2 bulan setelah didiagnosis, responden ini diminta untuk mengisi kuesioner tentang kebiasaan bersosialisasi mereka. Termasuk pula jenis dukungan yang mereka terima, masalah emosi yang mereka alami, serta gejala fisik yang muncul dari kanker payudara mereka.

Hasilnya, responden yang interaksi sosialnya paling baik, yaitu yang memiliki kelompok pertemanan terbanyak atau memiliki banyak teman dekat, memiliki kualitas hidup yang paling baik selama pengobatan kankernya jika dibandingkan dengan responden yang sosialisasinya kurang. Selain itu, mereka juga memiliki pengendalian emosi yang lebih baik. 

Sebaliknya, responden yang memiliki sedikit teman 3 kali lebih mungkin untuk mengalami kualitas hidup yang rendah selama pengobatan kanker. Selain itu, gejala fisik yang dialami juga semakin banyak.

"Dari hasil temuan ini, interaksi sosial yang positif bisa dikatakan memiliki hubungan untuk meningkatkan kualitas hidup pasien menjadi lebih baik," ujar Kroenke.

Dampak dari dukungan yang diberikan pada pasien kanker payudara, seperti membantu melakukan pekerjaan, membawa mereka ke dokter, atau menyediakan makanan, juga membawa pengaruh yang positif bagi kualitas hidup mereka.

Peneliti pun menyarankan bagi penderita kanker payudara untuk mulai bisa membuka diri dan mau membangun sebuah interaksi sosial. Namun tidak hanya dari pasien itu sendiri, teman dekat dan keluarga di sekitar pasien pun harus mau mendukung dan sama-sama berusaha untuk meningkatkan kualitas hidup pasien dengan kanker payudara.

Monday, April 8, 2013

Pelayanan Kesehatan Rujukan

1.     Pelayanan Rujukan Rumah Sakit Kabupaten/Kota
           Rumah Sakit Kabupten/Kota tidak diperbolehkan:
a.         menerima pasien tanpa rujukan dari Puskesmas (kecuali keadaan gawat darurat/emergency);
b.         dipaksa untuk menerima pasien tanpa  rujukan  dari Puskesmas;
c.         memperbolehkan pasien pulang paksa sebelum perawatan selesai (sanksi berupa pembayaran klaim tidak diberikan);
d.         merujuk pasien yang bisa ditanganinya sesuai standar  pelayanan kesehatan Rumah Sakit Kabupaten/Kota;
e.         menarik iuran/biaya atau biaya yang sudah diatur dalam sistem JKBM dengan alasan  apapun;
f.          mengajukan klaim bagi pelayanan yang tidak sesuai dengan prosedur  dan ketentuan (sanksi berupa pembayaran klaim tidak diberikan); dan
g.         mengajukan klaim ke UPT JKMB untuk pasien-pasien yang telah dilayani oleh sistem asuransi yang lain (sanksi berupa pengembalian klaim);dan
h.        menggunakan obat diluar formularium JKBM (sanksi klaim atas penggunaan obat diluar formularium JKBM menjadi beban rumah sakit).

Rumah Sakit Kabupaten/Kota sebagai fasilitas rujukan dalam memberikan pelayanan, wajib:
a.         memenuhi kebutuhan obat dan bahan habis pakai yang mengacu pada formularium obat JKBM;
b.         melayani pasien yang dirujuk oleh Puskemas yang termasuk  dalam kasus-kasus penyakit sesuai standar Rumah Sakit  Kabupaten/Kota (fasilitas rujukan pertama);
c.         melayani pasien yang tidak emergency di luar jam kerja Puskesmas dengan memberikan pengobatan sementara dan untuk pengobatan selanjutnya menganjurkan pasien berobat sesuai mekanisme rujukan;
d.         mengembalikan kasus-kasus penyakit  yang masuk dalam standar pelayanan tingkat dasar ke Puskesmas yang merujuk;
e.         membuat umpan balik kasus-kasus yang sudah dilayani di Puskesmas yang merujuk jika kasus tersebut sudah bisa dilayani di fasilitas pelayanan kesehatan dasar;
f.          menjalin perjanjian kerja sama untuk pembelian resep kacamata dengan optik yang telah berpengalaman;
g.         membuat pencatatan dan pelaporan yang lengkap, tertib, transparan dan bertanggungjawab (akan diaudit oleh tim pemeriksa); dan
h.        berkoordinasi dengan Tim Pengelola JKBM Tingkat Kabupaten/Kota dan Tim Pengelola JKBM Provinsi jika terjadi masalah/kendala di lapangan.

2.     Rumah Sakit Pusat Rujukan dilarang:
a.         menerima pasien tanpa bukti rujukan (surat rujukan/input rujukan pada sistem E-JKBM) dari Rumah Sakit Kabupaten/ Kota (kecuali keadaan gawat darurat/emergency);
b.         dipaksa untuk menerima pasien tanpa bukti rujukan  Kabupaten/Kota;
c.         memperbolehkan pasien pulang paksa sebelum perawatan selesai (sanksi berupa pembayaran klaim tidak diberikan);
d.         merujuk pasien yang bisa ditanganinya sesuai standar pelayanan kesehatan Rumah Sakit;
e.         menarik iuran/biaya yang sudah diatur dalam sistem JKBM dengan alasan apapun;
f.          mengajukan klaim bagi pelayanan yang tidak sesuai dengan prosedur  dan ketentuan (sanksi berupa pembayaran klaim tidak diberikan);
g.         mengajukan klaim ke UPT-JKMB untuk pasien-pasien yang telah dilayani oleh sistem asuransi yang lain (sanksi berupa pengembalian klaim); dan
h.        menggunakan obat diluar formularium JKBM (sanksi pembayaran klaim obat diluar formularium menjadi tanggung jawab rumah sakit).

           Rumah Sakit Pusat rujukan  berwenang:
a.         mengajukan klaim ke UPT JKMB atas pelayanan yang telah diberikan sesuai dengan tarif JKBM;
b.         menentukan pemanfaatan dana klaim sesuai dengan prosedur dan ketentuan yang berlaku; dan
c.         lain-lain yang dianggap perlu sesuai dengan ketentuan dan peraturan yang berlaku.

Rumah Sakit Pusat Rujukan dalam memberikan pelayanan wajib:
a.         memenuhi kebutuhan obat dan bahan habis pakai yang mengacu pada Formularium obat JKBM;
b.         melayani pasien yang dirujuk oleh Rumah Sakit Kabupaten/Kota yang termasuk dalam kasus-kasus penyakit sesuai standar pelayanan Rumah Sakit ;
c.         mengembalikan kasus-kasus penyakit yang masuk dalam standar pelayanan Rumah Sakit Kabupaten/Kota yang merujuk;
d.         membuat umpan balik kasus-kasus yang sudah dapat dilayani ke Rumah Sakit Kabupaten/Kota yang merujuk jika kasus tersebut sudah bisa dilayani di fasilitas pelayanan tersebut;
e.         menjalin perjanjian kerja sama untuk pembelian resep kacamata dengan optik yang telah berpengalaman;
f.          membuat pencatatan dan pelaporan yang lengkap, tertib, transparan dan bertanggung jawab; dan
g.         berkoordinasi dengan  Tim Pengelola JKBM Provinsi jika terjadi masalah/kendala di lapangan.

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Facebook Themes